Dengkur atau ngorok dalam bahasa medis disebut Rhonchopathie. Mendengkur merupakan bagian yang tak terpisahkan dari persoalan tidur seseorang. Sebagian orang menganggap mendengkur berarti pulas tidurnya. Tetapi sebenarnya, apa penyebab ‘suara khas’ pengiring tidur yang kadang ‘mengganggu tetangga’ itu? Selain membuat berisik, apakah suara itu juga berhubungan dengan kesehatan seseorang?
Macam-macam Dengkuran
Dengkuran bisa dibedakan atas beberapa jenis. Ada dengkuran ringan, dengan suara halus dan berlangsung terus-menerus. Ini biasanya terjadi pada fase awal tidur dan umumnya merupakan tanda kelelahan.
Jenis lainnya adalah dengkuran keras, terputus-putus, serta diikuti hentakan nafas yang dalam. Dengkuran macam inilah yang patut diwaspadai karena gangguan nafas jenis ini beresiko merusak organ-organ vital.
Sebagai gambaran, di Amerika Serikat diperkirakan 10 – 30% orang dewasa mendengkur. Dari jumlah itu, 5 % penduduk AS memiliki kebiasaan mendengkur yang keras saat tidur itu menandakan ada masalah kesehatan yang serius. Kebanyakan 5 % penduduk itu berjenis kelamin pria, berusia lebih dari 40 tahun, dan memiliki berat badan berlebih.
Yang patut diwaspadai adalah jenis dengkuran keras sampai-sampai terdengar keluar kamar. Dengkuran ini biasanya terputus beberapa saat, kemudian dilanjutkan dengan nafas yang terdengar seperti dihentakkan.
Kalau terjadi situasi semacam itu, berarti secara periodic orang tersebut berhenti bernafas. Nafas yang dihentakkan, merupakan mekanisme pertahan tubuh terhadap resiko rendahnya kadar O2/CO2 dalam darah. Keadaan ini menyebabkan kualitas tidur tidak memadai dan sering dikeluhkan penderita sebagai insomnia.
Dalam istilah kedokteran, pola dengkur-henti nafas ini sering disebut Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) atau gangguan nafas obstruktif saat tidur.
Gejala-gejala khas OSAS diantaranya sering berganti posisi tidur, mimpi tercekik atau mimpi buruk. Penderita OSAS sering terbangung pada malam hari dengan jantung berdebar. Saat bangun pagi, biasanya penderita merasa tidak cukup tidur atau kurang segar. Selain itu, penderita juga bangun pagi dengan ringkuh, serba salah, mulut kering dan sakit kepala.
Beberapa Penyebab Orang Mendengkur
Menurut Prof. Hendarto Hendarmin, dokter ahli THT di Jakarta, penyebab seseorang mendengkur itu bermacam-macam. Bisa karena kelainan anatomi hidung (septum deviasi), adanya sumbatan oleh polip, atau alergi yang menyebabkan selaput lender membengkak sehingga penderita harus bernafas lewat mulut. Mendengkur bisa juga dialami anak-anak, dan biasanya akibat pembesaran amandel dan adenoid yang ada di belakang hidung. Yang jelas, adanya dengkuran itu menandakan terjadinya penyumbatan di saluran pernafasan saat seseorang sedang tidur. Suara dengkuran berasal dari usaha udara untuk melewati salauran udara yang menyempit itu.Adapun prosesnya, selama tidur, otot -termasuk otot pernafasan- menjadi lebih rileks dibandingkan pada saat terjaga. Pada sebagian orang keadaan ini tidak menjadi masalah. Namun pada beberapa orang, terutama yang berusia lanjut, otot yang rileks membuat saluran nafas menyempit dan mengakibatkan penyumbatan.
Kondisi di atas makin diperparah lagi apabila penderita dalam posisi tidur terlentang, sehingga lidah yang melemas jatuh ke belakang. Maka terjadi penyumbatan seperti leher botol. Getaran akibat turbulensi udara pada bagian lunak faring karena tekanan negative di jalan pernafasan saat tidur itu muncul sebagai dengkur.
Mendengkur dan Resikonya
Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) atau gangguan nafas obstruktif saat tidur ternyata bisa juga menyerang anak-anak dengan berat badan berlebihan atau yang menderita pembesaran amandel. Seperti orang dewasa, OSAS juga ditandai dengan mendengkur. Gejala lain OSAS pada anak adalah suara nafas yang sulit atau pola ‘tidur-jaga’ yang tidak teratur.
Pada remaja, OSAS ditandai dengan rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari dan prestasi sekolah memburuk. Para penderita muda ini sering dicap sebagai anak lamban atau malas.
Penderita mengeluhkan akan rasa kantuk yang berlebihan, bahkan sampai taraf mengganggu. Penderita bisa tertidur di tempat umum, saat mengobrol, rapat, saat duduk di kursi, bahkan saat ketika menunggu lampu lalu lintas berganti hijau.
Pada keadaan normal, tekanan darah dan frekuensi detak jantung saat tidur lebih rendah daripada saat terjaga. Namun pada penderita OSAS justru terjadi hal yang sebaliknya. Sehingga terjadi beban tambahan terhadap kerja jantung. Keadaan ini sering dihubungankan dengan terjadinya serangan jantung saat orang tidur malam hari.
Saat penderita OSAS tidur, pasokan oksigen ke jantung menurun (karena adanya gangguan pernafasan), sedangkan kebutuhan otot jantung akan oksigen naik akibat tekanan darah dan frekuensi detak jantung yang meningkat.
Resiko Kematian dan Gangguan Seks
Bukan bermaksud menakut-nakuti, mendengkur ternyata memiliki tingkat resiko yang cukup serius. Menurut peneliti di Amerika Serikat mengatakan gangguan tidur yang parah ternyata bisa meningkatkan risiko meninggal lebih cepat hingga 46 persen.
Naresh Punjabi dan timnya telah melakukan penelitian terhadap 6.400 laki-laki dan peremuan selama kurang lebih 8 tahun. Dan ditemukan orang yang memiliki gangguan tidur parah lebih berisiko meninggal muda tanpa memandang usia, jenis kelamin, berat badan dan merokok atau tidak, seperti dilaporkan dalam Public Library of Science journal PLoS Medicine.
“Pada laki-laki 42,9 persen tidak memiliki gangguan bernapas saat tidur, 33,2 persen memiliki gangguan tidur sedang dan 8,2 persen memiliki gangguan tidur yang sangat parah,” ujar Naresh Punjabi.
Sementara itu untuk perempuan, 25 persen memiliki gangguan tidur yang sedang dan 3 persen memiliki gangguan tidur yang sangat parah. Peneliti yang dibiayai oleh National Heart, Lung, and Blood Institute of the National Institutes of Health mengatakan orang yang memiliki gangguan tidur sedang tidak masuk dalam kelompok ini.
Gangguan konsentrasi dan kecendrungan menjadi pelupa merupakan akibat rendahnya kualitas dan kuantitas tidur. Perubahan tingkah laku seperti mudah tersinggung, marah, agresif, pencuriga, cemas, dan depresi sering menyertai gangguan tidur kronis pada penderita OSAS. Selain itu sekitar 28% penderita OSAS mengeluhkan penurunan hasrat seksual. Pada kamum pria, OSAS menjadi penyebab penting penurunan kemampuan ereksi (impotensi)
Penelitian lain oleh Koehler dan Schafer (1996) menyimpulkan, 35% penderita jantung koroner menderita OSAS. Malahan Rangermark dkk, (1995) menyatakan, pada penderita OSAS terjadi penurunan aktivitas penghancuran bekuan darah, sehingga makin mempertinggi resiko terjadinya penyakit koroner atau penyakit vaskuler otak. (Kompas, 30 Maret 1997).
Henti nafas pada penderita OSAS juga menghambat pasokan oksigen ke otak. Akibatnya, sel-sel otak kekurangan oksigen. Kondisi terburuk adalah kematian sel-sel, sama seperti stroke.
Dilaporkan oleh Palomaki dkk. (1989), 41,9% serangan stroke terjadi saat tidur, dan sekitar 70% dari penderita tersebut adalah orang dengan kebiasaan mendengkur.
Jauhi Penyebab
Sudah ratusan tahun orang berusaha untuk mencoba menghilangkan dengkur, mulai dari membuat topeng khusus dari kulit, sampai alat pengikat hidung maupun mulut. Cara lainnya ialah dengan menggunakan elektro schock atau dengan strum listrik, begitu anda ngorok langsung alat tersebut mengeluarkan strum khusus untuk membangunkan anda.
Di Jerman ada satu museum khusus, mungkin satu-satunya museum di dunia yang khusus memperlihatkan alat-alat penangkal dengkur. Museum ini adanya di kota Alfeld (Niedersachsen).
Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah mencari tahu apa penyebabnya. Untuk itu anda bisa berkonsultasi dengan dokter. Apabila itu akibat amandel, bisa ditangani dengan operasi. Sementara kalau itu karena masalah kegemukan, maka penurunan berat badan sebanyak 10% sudah dapat melegakan nafas anda saat tidur. Hal ini diperlihatkan oleh oleh frekuensi henti nafas yang makin jarang, tidur lebih lelap dan berkurangnya rasa kantuk pada siang hari. Disarankan agar para pendengkur tidak mengkonsumsi minuman beralkohol biarpun kadarnya rendah, terutama dua jam sebelum tidur.
Alcohol menekan pusat nafas di otak, sehingga OSAS semakin berat. Obat tidur juga berakibat sama buruknya dengan alcohol bagi pendengkur. Sementara obat-obatan untuk penghilang rasa cemas, sakit kepala atau flu sering kedapatan mengganggu nafas saat tidur.
Kalau penyumbatan nafas akibat rokok atau alergi, maka berhentilah merokok atau jauhkan penyebab alergi. Kalau mendengkur hanya akibat tertutupnya jalan pernafasan oleh lidah yang melemas dan jatuh ke belakang, maka aturlah posisi tidur anda (contohlah cara tidur Rasulullah yaitu posisi badan miring ke kanan). Jangan tidur telentang karena akan menyebabkan lidah yang lemas rebah ke belakang.
Belakangan ini banyak ditawarkan produk-produk untuk menangkal dengkur berupa ‘obat luar’ seperti bantal berharga ratusan ribu- dan obat telan. Obat telan yang belakangan dikatakan didatangkan dari AS, meskipun terbuat dari bahan alami, tapi harus hati-hati pemakaiannya.
Hal terpenting, anda perlu mencari penyebab dengkuran. Apakah karena tersumbatnya saluran pernafasan akibat posisi tidur, atau karena hal-hal lain. Perlu juga diketahui obat itu memiliki efek samping atau tidak.
Selain itu, dalam mengkonsumsinya, perlu ditanyakan cara pakainya agar lebih efektif. Konon obat yang dimasukkan dalam kategori food supplement ini baru efektif apabila dimakan 30-60 menit menjelang tidur malam. Untuk orang dengan berat badan di bawah 55 kg, cukup menelan 1 pil sehari. Tetapi, untuk yang beratnya di atas 55 kg, perlu 2 pil sehari. Dampak pil itu akan terlihat setelah dimakan 14-21 hari. Amat dianjurkan untuk menjauhi makanan berlemak kira-kira 4 jam sebelum tidur.
Jadi kalau anda mendengkur, deteksi dulu apakah itu jenis yang ringan atau yang berat. Setelah itu perhatikan gejalanya dab baru mencoba langkah-langkah penyembuhannya. Sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh solusi terbaik.
Nah, saatnya kini Anda tak perlu lagi merasa malu atau minder sebagai seorang pendengkur berat, sebab terbuktikan mantan perdana menteri Inggris Sir Winston Churcil, komponis Jerman – Johannes Brahms maupun sang jenius Albert Einstein ternyata mereka termasuk anggota dari klub pendengkur kelas berat/keras !
(Dari berbagai sumber)
Popularity: 5% [?]
























































